Hai, Takaiters!

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para pahlawan dan pendahulunya. Bersyukur, ya, Takaiters, kita hidup di zaman kemerdekaan.

Banyak tokoh pahlawan bangsa yang namanya terus dikenang sampai saat ini. Bahkan ada yang diabadikan menjadi nama sebuah museum, lho, Takaiters.

Berikut ini adalah 3 nama tokoh  asli Minang  yang diabadikan menjadi nama sebuah  museum di Sumatra Barat. Simak, ya, Takaiters!

1. Museum Tuanku Imam Bonjol 

Foto: aet.co.id

Imam Bonjol mempunyai nama asli Muhammad Shahab, Lahir di Bonjol, pasaman, Sumatra Barat, pada 1 Januari 1972. Nama Imam Bonjol di dapat dari tanah kelahirannya, sebagai pemimpin daerah tersebut. Tuanku Imam Bonjol merupakan ulama dan pemimpin masyarakat, bagi kaum Padri.

Perang Padri yang berlangsung (1803-1821)  meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memeori bangsa karena yang berperang adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak pada umumnya.

Tuanku Imam Bonjol meninggal tanggal 8 November 1864 di Minahasa, setelah ditangkap pada suatu perundingan dan diasingkan ke Cianjur, dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Untuk mengenang jasa Tuanku Imam Bonjol dibangunlah Museum Tuanku Imam Bonjol terdapat di Kabupaten Pasaman, Sumatra barat. Museum yang dibangun tahun 1998 itu, memiliki koleksi benda-benda bersejarah, seperti senjata, pakaian kebesaran, keramik, dan kain tradisional.

Pilihan Editor


2. Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Foto: kemlu.go.id

Bung Hatta yang lahir pada tanggal 12 Agustus 1902, merupakan wakil presiden RI pertama juga merupakan bagian dari delegasi Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Bung Hatta adalah orang pertama yang menjabarkan politik luar negeri yang bebas dan aktif, yang menjadi landasan politik luar negeri Indonesia sampai saat ini.

Bung Hatta dikenal sebagai aktivis dan pejuang sejak masa sekolahnya. Beliau bersama teman seperjuangnnya  mendirikan Jong Sumateranen Bond, Perhimpunan Indonesia di Belanda, dan Partai Nasional Indonesia. Bung  Hatta mengalami masa pembuangan di Digul, Bandabeira, dan Bangka.

Rumah  Bung Hatta yang didirikan sekitar tahun 1860-an, menggunakan struktur kayu ini terdiri dari bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur, dan kandang kuda serta kolam ikan. Rumah asli tempat Bung Hatta dilahirkan sudah runtuh di tahun 1960-an, tetapi atas  inisiatif Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta, maka rumah tersebut dibangun ulang sebagai upaya mengenang Bung Hatta. Rumah ini diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1995 seperti dilansir kemlu.go.id.

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta ini terletak di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi, Sumatera Barat. Rumah ini dibangun mengikuti bentuk aslinya. Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta begitupun tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.

3. Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Foto: indonesia-tourism.com

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal luas dengan nama Buya Hamka lahir pada hari Senin, 17 Februari 1908. Anak tertua dari tujuh bersaudara ini lahir di tengah keluarga yang kuat memegang ajaran agama.

Hamka banyak berkontribusi dalam dakwah dan pergerakan melalui tulisan-tulisannya yang sebagian berakhir dengan pelarangan karena dianggap membahayakan pemerintah Hindia Belanda.

Setelah era kemerdekaan hingga akhir hidupnya, Hamka tetap aktif menulis di berbagai media, baik buletin, majalah, buku, roman, hingga tafsir Al-Quran. Dari sekitar 118 judul buku yang pernah ia tulis semasa hidupnya, sekitar 28 judul dapat kita saksikan diantara koleksi buku di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang terletak di Kab Agam, seperti dilansir indonesiakaya.com

Gimana, Takaiters … sudahkah generasi zaman now tahu dan menghargai jasa pahlawannya? Takaiters harus bangga dong, ya, bangga menjadi generasi penerus bangsa.