Ini Dia Risman Marah, Putra Asli Minang yang Menjadi Maestro Fotografi Buta di Indonesia
Sosok

Ini Dia Risman Marah, Putra Asli Minang yang Menjadi Maestro Fotografi Buta di Indonesia

Foto : twitter

Hai, Takaiters!

Pernahkah kamu merasakan kejenuhan yang memuncak dalam karirmu? Jika Takaiters sedang bergumul dengan hal ini, sebaiknya jangan buru-buru meninggalkan karir, apalagi jika karir itu bermula dari passion yang kuat. Kamu bisa melakukan inovasi yang akan memukau publik sekaligus mencengangkan. Tidak percaya? Mari belajar dari sosok bernama Risman Marah.

Risman Marah adalah seorang fotografer profesional yang sudah melakukan job memotret sejak tahun 1972.  Meskipun sudah kenyang akan penghargaan dalam bidang  fotografi, kegelisahan Risman menggelegak kuat. Ia merasa tidak ada lagi hal menantang dalam dunia fotografi yang dapat digenggam lebih. Kegelisahan itu mencapai titik puncaknya, sehingga beliau mendobrak pakem fotografi yang ada. Lewat tangan dinginnya, lahirlah konsep “Fotografi Buta”.

Pilihan Editor

Untuk mewujudkan ide tersebut, di tahun 2008, Risman menggandeng sejumlah  penyandang tunanetra guna memotret obyek-obyek yang biasa diabadikan oleh orang-orang dengan penglihatan.  Uniknya, Risman mengajak para penyandang tunanetra sejak lahir untuk menggodok fotografi buta. Berbekal kamera Nikon DSLR dengan bukaan diafragma tinggi dan kecepatan rana otomatis, objek foto berupa candi, pepohonan, dan kawasan pantai menjadi makin cantik dan tidak biasa.

Risman adalah pendobrak kreativitas dunia fotografi Indonesia dengan teknik fotografi buta yang diciptakannya. Berdasarkan catatan Kompas, seorang fotografer profesional bernama Anja Ligtenberg yang sempat bermukim di New York, Amerika Serikat, juga melakukan hal serupa. Proyek tersebut bernama Seeing The Unseen yang kemudian dijalankan pula oleh Skyway Foundation pada 2004-2006.

Pria kelahiran Bukittinggi 3 Juni 1951 ini makin mengokohkan citranya sebagai maestro fotografer kebanggaan Indonesia lewat kiprahnya sebagai salah satu founder Fakultas Seni Media Rekam (Multimedia) ISI Yogya dengan jurusan fotografi dan televisi pada 1994.  Beliau mengajar hingga purna tugas pada tanggal 2 Juni 2016 lalu. Selama mengajar, Risman terkenal sebagai salah satu pendidik yang berdedikasi tinggi.

Kisah Risman Marah layak menjadi sebuah cerita inspiratif bagi Takaiters. Dari kegigihannya berinovasi, kita dapat belajar untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih baik. Bahkan kerinduannya untuk mengembangkan teknik baru di dunia fotografi menjadi berkat bagi kaum difabel, khususnya kaum tunanetra.

Selamat mengejar mimpi, dan jangan lupa bergaul akrab dengan inovasi!

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Populer

To Top