Halo, Takaiters!

Kita sebagai seorang muslim patut berbangga, lho. Sebab banyak ilmuwan muslim yang menjadi pelopor ilmu pengetahuan. Teori-teori mereka sangat berjasa bagi perkembangan ilmu modern saat ini. Salah satunya di bidang ilmu kedokteran. Ada lima ilmuwan muslim yang merupakan peritis ilmu kedokteran. Peran mereka menjadi inspirasi dan rujukan bagi perkembangan imu kedokteran saat ini. Siapa sajakah mereka?

1. Ibnu Sina

Foto: menatahidup.com

Ibnu Sina atau yang dikenal dengan nama lati Avicenna. Ilmuwan yang lahir pada tahun 980 ini berasal Afshana, Uzbekhistan. Ibnu Sina adalah anak dari pasangan Abdullah dan Setareh. Ayahnya adalah seorang gubernur Kharmaitan. Ayahnya selalu mengutamakan pendidikan, hal ini membuat Ibnu Sina sangat suka belajar. Saat masih kanak-kanak dia sudah mempelajari ilmu Fiqih, Tafsir, dan tasawuuf. Dia pun sudah menghapal Alquran diusia 10 tahun.

Ilmu kedokteran dipelajarinya secara otodidak. Saat remaja, sudah banyak orang yang datang berobat kepadanya. Sejak saat itu, Ibnu Sina banyak mengobati orang-orang sakit. Bahkan di usia 18 tahun, dia berhasil mengobati Sultan Nuh bin Mansur yang tengah mengidap sakit parah. Padahal, sebelumnya sudah banyak dokter ahli yang datang mengobati tetapi tidak berhasil. Atas keberhasilannya tersebut, Ibnu Sina mendapatkan gelar Medicorum Principal, yang artinya Rajanya para dokter.

Banyak sumbangsih yang telah dia berikan dalam ilmu kedokteran. Di antaranya adalah penemu teori penularan TBC, pelopor aroma terapi, penemu manfaat etanol, dan penulis buku Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine). Buku yang ditulisnya itu menjadi rujukan bagi semua dokter yang ada di dunia hingga saat ini. Buku tersebut berisi tentang penyakit saraf, membahas cara-cara pembedahan yang menekankan tentang keperluan pembersihan luka. Bahkan, di dalam buku-buku tersebut juga dinyatakan keterangan dengan lebih jelas di samping gambar-gambar dan sketsa-sketsa yang sekaligus menunjukkan pengetahuan anatomi Ibnu Sina yang luas.

Para ilmuwan-ilmuwan barat menjuluki Ibnu Sina sebagai “Father of Doctor” karena beliau telah menggabungkan teori perobatan Yunani Hipocrates dan Galen dan pengalaman dari ahli-ahli perubatan dari India dan Parsi serta pengalaman beliau sendiri.

2. Ibnu Jazzar

Foto: zulfanafdhilla.com

Mahalnya biaya pengobatan, membuat orang miskin kesulitan mengaksesnya. Bahkan, ada istilah, “Orang Miskin Dilarang Sakit.” Bila sekarang ada BPJS yang membantu pengobatan bagi orang miskin, pada zaman dahulu ada Ibnu Jazzar. Ibnu Jazzar adalah seorang dokter yang peduli terhadap pengobatan fakir miskin. Dia menulis buku Thib Al-Fuqara yang artinya pengobatan untuk kaum fakir. Ibnu Jazzar dijuluki sebagai dokternya orang miskin.

Nama lengkap Ibnu Jazzar adalah Abu Ja’far Ahmad bin Ibrahim bin Abi Khalid Ibnu al-Jazzar. Ia dilahirkan di Qayrawan, Tunisia. Ayahnya adalah seorang dokter. Ini membuat dia akhirnya terjun dalam bidang kedokteran juga. Pendidikan dasarnyaditempuh dengan cara homeschooling. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan formal di bawah bimbingan Ishaq bin Sulayman al-Isra’ili, seorang dokter terkenal keturunan Yahudi. Dengan kecerdasan dan ketekunannya, Ibnu Jazzar akhirnya berhasil menjadi seorang dokter yang andal.

Salah satu karyanya yang sangat fenomenal adalah Zal al-Musafir wa Qut al-Hadir. Karya ini terdiri dari tujuh jilid buku yang berisi tentang pengobatan berbagai jenis penyakit. Satu jilid buku ini, yaitu tentang demam dan penyakit seksual, diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Arts of Medicine. Buku terjemahan ini kemudian menjadi buku teks terkenal yang menjadi bahan rujukan para mahasiswa ilmu kedokteran di Universitas Oxford dan sejumlah universitas di Bologna, Italia, dan Perancis.

Pilihan Editor


3. Ibnu Nafis

Foto: pustakaperadaba.blogspot.com

Dalam tubuh kita, terdapat banyak darah yang mengalir pada saluran-saluran pembuluh darah yang rumit. Namun, saluran-saluran yang rumit itu bisa diuraikan dengan baik oleh Ibnu Nafis. Perannya itu sangat berjasa bagi ilmu kedokteran. Beberapa dokter barat seperti Michael Servetus, Realdo Colombo, dan Andrea Albaco menjadikan teori Ibnu Nafis sebagai bahan penelitian.

Nama lengkap Ibnu Nafis adalah al-Din Abu al-Hasan Ali Ibn Abi al-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi. Ibnu Nafis dijuluki sebagai The Second Avicenna (Ibnu Sina Kedua). Ia lahir pada tahun 1213 di Damaskus. Ibnu Nafis menempuh pendidikan kedokteran di Medical College Hospital. Gurunya adalah Muhalthab al-Din Abd al-Rahim.

Salah satu karya terbaikknya adalah on the Anatomy of Canon of Avicenna. Buku ini merupakan rangkuman hasil pemikiran Ibnu Nafis mengenai anatomi, patologi, dan fisiologi. Dari karya tersebut, ditemukan fakta penting tentang peredaran darah dalam paru-paru. Tak heran, kemudian, Ibnu Nafis dijuluki sebagai ahli peredaran darah.

4. Ibnu Mundzir

Tak hanya manusia, hewan juga membutuhkan dokter bila sedang sakit. Pada zaman dulu, ada seorang dokter hewan yang sangat terkenal, Namanya adalah Ibnu Mundzir. Ibnu al Mundzir Abu Bakr Bin Badr atau dikenal dengan nama lain Al Baytar an Nasiri. Ia bekerja sebagai kepala dokter hewan pada Mamluk sultan Mesir, Nasir an Din Muhammad bin Kalawun yang memerintah pada tahun 693 H/1294 M. Ketika kuda-kuda istana sakit, Ibnu Mundzirlah yang mengobati.

Pada saat penaklukan pemerintahan inilah (sekitar 1339-1340 M) Al Mundzir menulis karyanya tentang hippologi (persendian tulang) yang berjudul Kisyaf Hamm al Wayl fi Ma’rifat Amrad al Khayl, sebuah kompilasi dari karya-karya lama, terutama dari Kamil as Sina’ atau Al Baytara wa az Zartafa, karya Ibnu Abi Khazzam, pada abad ke 3 H/9 M. Karya kompilasi tersebut kemudian diberi judul yang lebih sederhana Kitab an Nasiri. Oleh A. Perron, terjemahan buku ini kemudian diterbitkan dalam 3 jilid, disertai pengantar yang terperinci dengan judul panjang, Le Naceri: la Perfection des deux Art out Traite Complet D’hippologie et D’hippiatrie Arabes, Trad I’ra rabe d’Abou Bekr Ibnu Bedr.

Jilid 1 yang muncul pada tahun 1852 M berisi suatu pengantar yang menyajikan banyak informasi tentang kuda Arab, perkembangbiakannya, serta penekanan terhadap usaha-usaha khusus yang dilakukan oleh sultan an Nasir untuk mengembangkan peternakan kuda di Mesir.
Jilid 2 yang muncul pada tahun 1859 M berisikan terjemahan dari bagian-bagian yang menyangkut hippologi. Sedang jilid 3 (1860 M) banyak berkaitan dengan hippiatri. Ibnu Munziir dijuluki sebagai Grand Master Dokter Hewan.

5. Abi Mahasin

Foto: dakwahsyariah.blogspot.com

Kesehatan mata juga perlu dijaga, lho. Jangan sampai menyesal seperti saya. Akibat sering membaca sambal tiduran, saya memakai kacamata sejak dari kelas 4 SD. Berbicara tentang kesehatan mata, tak bisa dilepaskan dari Abi Mahasin.

Nama lengkap Abu Mahasin adalah Khalifah bin Abi al-Mahasin al-Halabi. Ia dikenal sebagai seorang dokter spesialis mata yang berasal dari Aleppo. Abi Mahasin adalah seorang dokter muslim yang berhasil menemukan berbagai jenis penyakit mata beserta obatnya. Abi mahasin juga menguasai cara operasi mata.

Buku al-Kafi fi al-Kuhl (fi al-Thibb) adalah salah satu karyanya di bidang opthalmologi (ilmu kedokteran mata). Dalam buku ini, ia memberikan sketsa ringkas mengenai sejarah opthalmologi Arab. Ia juga menguraikan beberapa masalah, seperti anatomi, fisiologi (ilmu fa’al tubuh), dan kesehatan mata secara lengkap. Ia juga menuliskan daftar obat-obatan yang bisa menyembuhkan suatu penyakit mata tertentu dan memberikan gambaran tentang beragam jenis operasi mata yang dapat dilakukan. Misalnya, operasi mata untuk menyembuhkan penyakit katarak. Di beberapa bagian buku, Abi Mahasin juga memasukkan sejumlah gambar dan ilustrasi yang menunjang isi buku. Pada masanya, buku ini adalah sebuah karya yang sangat berkualitas tinggi.

Para ilmuwan muslim di atas telah memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi dunia kedokteran hingga saat ini. Semoga kisah perjalanan hidup mereka yang diwarnai prestasi membanggakan dapat menjadi sumber inspirasi dan penyemangat bagi kita semua, Takaiters.