Hallo, Takaiters!

Pada Zaman Hindia Belanda, untuk menempuh pendidikan sekolah saja, kamu haruslah menjadi anak seorang petinggi atau orang kaya pribumi yang berpenghasilan gulden. Karena pada saat itu, semua sekolah merupakan milik Belanda dan berbahasa Belanda.

Zaman dulu, mereka yang berhasil mengenyam pendidikan walau hanya sampai sekolah dasar atau sekolah rakyat (Volkschool), sudah dikatakan orang yang sangat beruntung, karena menurut catatan sejarah, di awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, hanya sepuluh persen saja rakyat Indonesia yang bisa sekolah.

Kebanyakan dari mereka yang mengenyam pendidikan itu hanya mempunyai ijazah sekolah dasar Volkschool, HIS (Hollandsche Inlandsche School), dan ELS (Europesche Lager School).  Lama waktu pendidikan Volkschool sama seperti Sekolah Dasar pada zaman sekarang yaitu selama enam tahun. Sedangkan HIS dan ELS harus ditempuh selama tujuh tahun.

 

Setelah lulus  dari Volkschool, HIS,  ataupun ELS, para siswa diperbolehkan melanjutkan sekolah lanjutan tingkat pertama setara SMP, yaitu: MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs. Sama seperti SMP di zaman sekarang, para siswa harus menempuh pendidikan selama tiga tahun untuk lulus dari MULO.

Kemudian, mereka bisa melanjutkan sekolah setara SMA yang disebut AMS atau Algemeene Middelbare Schoolter yang tersebar hampir di semua kota besar, ibu kota provinsi kolonian, seperti: Batavia, Bandung, Semarang, Jogyakarta, Medan, Makassar dan ibu kota provinsi lainnya. Lama pendidikan yang ditempuh di AMS adalah tiga tahun.

Selain AMS, terdapat juga  HBS atau Hogere Burger School.  Namun, HBS hanya ada di Batavia, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Medan. Walaupun AMS dan HBS sama-sama sekolah lanjutan tingkat atas, tetapi HBS ini memiliki kelebihan sendiri, karena HBS setara dengan sekolah percepatan atau kelas akselerasi di zaman now.

Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bangku kuliah, saat itu para siswa hanya bisa masuk universitas yang ada di Belanda, karena pada saat itu di Indonesia hanya ada 3 sekolah tinggi berikut ini:

1. STOVIA atau School tot Opleiding van Indische Artsen yang didirikan pada tahun 1851

Foto: pinterest.fr

Sekolah tinggi kedokteran ini lebih dikenal sebagai Sekolah Dokter Jawa, lalu pada tahun 1927 berubah menjadi Geeneskundig Hoge School. Sekolah tinggi ini berada di Salemba. Salah satu alumninya adalah Pahlawan Negara-Doktor Soetomo. Selain STOVIA atau Geeneskundig Hoge School(GHS), terdapat juga sekolah tinggi lainnya yaitu: RHS atau Recht Hoge School, yaitu sekolah tinggi hukum.

Nah, Sekolah tinggi pendidikan kedokteran dan hukum yang ada di Batavia di zaman kolonial itu lah, yang menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran dan Fakultas Hukum di Universitas Indonesia (UI) yang didirikan tahun 1950.

2. THS atau Tekniksche Hoge School, didrikan pada tahun 1920

Foto: eindhoveninbeeld.com

Sekolah tehnik di Bandung ini, sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berdiri pada tahun 1959. Salah satu lulusan THS adalah Ir. Soekarno, yang sebelumnya menamatkan HBS di Surabaya.

Pilihan Editor



3. Landbouw School, didirikan pada tahun 1927

Foto: mapio.net

Selain sekolah tinggi yang ada di Batavia dan Bandung, terdapat juga Landbouw School atau sekolah pertanian yang letaknya berada di Bogor. Belakangan setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1952, sekolah ini berubah menjadi Institut Pertanian Bogor(IPB)

Nah, Guys, itu tadi tiga sekolah tinggi di zaman kolonial yang menjadi cikal bakal berdirinya tiga PTN favorit di Indonesia. Menjadi seorang Sarjana di zaman itu adalah hal yang amat langka dan dihormati ya, Guys. Berbanding terbalik dengan keadaan zaman now, dimana Sarjana bukan lagi pangkat yang berguna bila tidak diimbangi dengan keahlian atau skill.

Berdirinya tiga PTN Indonesia yang bermula dari sekolah ciptaan kolonial ini, tentu bukan perkara yang gampang, semua ditempuh dengan jerih payah perjuangan para Pahlawan, dengan usaha yang berdarah darah, mengorbankan harta, tenaga, pikiran bahkan dirinya sekalipun.

Kini pemuda Indonesia tinggal menikmati hasilnya saja. Menempuh pendidikan tinggi yang diidamkan di tempat yang aman, nyaman, dan mengasyikan.

Seperti orasi Bung Karno: “Jasmerah-jangan lupakan sejarah.” Ya, Guys. Karena jasa merekalah yang membuatmu kini punya peringkat, pangkat dan sertifikat. Bahkan, jadi seorang pejabat.
Semangat bermartabat!