Hai, Takaiters!

Tahukah kamu, Guys, ternyata banyak alasan mengapa para perantau itu berpindah negara hingga sampai melintasi benua. Diantaranya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mendapatkan pekerjaan di negara orang, menemani suami bertugas, menikah dengan Warga Negara Asing dan lain sebagainya.

Ada perantau yang untuk sementara waktu berjuang seorang diri, berjauhan dari keluarga, ada juga perantau yang langsung memboyong keluarga kecilnya untuk berpindah. Tentunya, ketika sang buah hati ikut berpindah, maka salah satu hal utama yang menjadi perhatian, keinginan dan harapan orang tua adalah mengusahakan putra putrinya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Berpindah ke luar negeri terkadang tidak semudah yang dibayangkan. Adegan di balik layar akan penyesuaian terhadap lingkungan sekolah, budaya, bahasa, sistem pengajaran yang berbeda tidak lah semudah membalik telapak tangan. Tetapi, pendidikan memang bukan sesuatu yang bisa ditawar, harus tetap berjalan, walau di awal langkah terasa berat.

Dalam buku Asyiknya Belajar di 5 Benua, dua puluh bunda perantau mengisahkan pengalaman mereka mendampingi buah hati menjalani pendidikan dasar di 18 negara. Ditulis dari sudut pandang orang tua, para kontributor berkisah dengan gaya khas nya masing masing, serius tapi santai,  ringan dan tidak menggurui. Apa saja sih poin yang menarik untuk dicermati dari buku ini? Kita bahas satu persatu ya.

Informasi tentang sistem dan gaya pendidikan yang beragam dari berbagai negara

buku Asiknya Belajar di 5 Benua
Foto: Visi Mandiri

Informasi yang terkait dengan pendidikan dasar seperti usia anak mulai sekolah, cara pendaftaran, syarat – syarat yang harus dilengkapi ketika anak mendaftar sekolah, dan masih banyak detail lainnya dikemas secara singkat dan padat dalam buku ini.

Selain itu, kita pun diajak berpetualang mengikuti beragamnya pendekatan pengajaran pendidikan dasar yang tersebar di 18 negara. Dari pendidikan yang tampak ‘santai’ di negara negara Eropa seperti Swedia sampai pendidikan yang terkesan ketat dan kompetitif di Singapura, sehingga munculnya istilah kiasu (saya harus lebih dari orang lain). Pendidikan dengan active learner (belajar aktif), pendidikan berbasis Monstessori di Praha yang mengijinkan para siswa untuk belajar sesuai posisi nyaman mereka, sistem akselerasi di Singapura atau penilaian berindeks 1 – 6 di Jerman adalah sedikit contoh bagian dari buku setebal 308 ini. Hmm … jadi penasaran ‘kan?

Suka dan duka orang tua dalam mendampingi proses belajar sang buah hati

buku Asiknya Belajar di 5 Benua
Foto: Retno Dianingsih

Ketika berpindah negara, satu hal yang sering menjadi kekhawatiran orang tua adalah bagaimana sang buah hati akan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kekhawatiran ini tentulah hal yang sangat wajar. Jangankan berpindah sekolah di tempat yang budaya, bahasa dan sistem pengajaran nya berbeda; berpindah sekolah di negara sendiri saja kadang masih terselip rasa “dag dig dug”.

Beragam kisah suka dan duka orang tua dalam mendampingi proses belajar sang buah hati pun terkisahkan dalam buku ini. Sebagai contohnya adalah bagaimana bunda kontributor dari Korea Selatan menceritakan sisi pro dan kontra akan sangat tekunnya para siswa di Korea Selatan dalam belajar, sampai – sampai ketika mereka gagal dapat menimbulkan hal yang sangat tidak diingingkan. Bagaimana sang Bunda memastikan putri kecilnya tetap terjaga hak bermainnya, di tengah iklim persaingan belajar yang luar biasa.

Dalam beberapa kisah, emosi khas orang tua dalam mendampingi proses belajar sang buah hati tergambar nyata. Rasa ragu apakah sang anak mampu mengikuti pembelajaran baru, rasa khawatir ketika anak perempuannya harus berjalan sendirian ke sekolah, rasa sedih ketika proses adaptasi tidak semulus yang dibayangkan, rasa bangga ketika buah hati dapat menunaikan tugasnya sebagai MC di acara sekolah, rasa syukur ketika  mendapatkan hasil yang memuaskan. Dari kisah – kisah ini, semoga tidak hanya membuat kita larut dalam emosi yang dirasakan oleh para kontributor, tetapi juga banyak pengalaman berharga yang dapat kita petik manfaatnya.

Beragam contoh kegiatan menarik dalam proses belajar mengajar

buku Asiknya Belajar di 5 Benua
Foto: Efa Refnita

Tentunya kita bisa sepakat bahwa bermain adalah domain dunia anak. Secara ideal, proses belajar mengajar bukanlah sebatas ujian dan nilai, sehingga pendekatan pendidikan dasar sebaiknya dilakukan, sebisa mungkin, dengan cara yang menyenangkan. Syukur – syukur anak tidak merasa terbebani, sangking senangnya mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar

Beragam contoh kegiatan sekolah untuk mendongkrak kegiatan belajar mengajar dalam cara yang menyenangkan pun terkisahkan secara apik. Dari mulai menjadi sukarelawan kantin sekolah di Australia, kegiatan “Poetry Café” di Praha, tradisi “Okuma Bayrami” di Alanya – Turki,  atau bagaimana kunjungan wisata sekolah tidak lah selalu harus ke tempat bersejarah, tetapi juga bisa ke tempat – tempat yang unik dan menarik (Amerika) .

Satu hal lagi yang dipastikan jangan sampai terlewat ketika membaca buku ini adalah kegiatan- kegiatan sekolah yang kreatif dan sederhana untuk menumbuhkan kegemaran membaca anak sejak dini.

Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca oleh para orang tua, praktisi dan pemerhati dunia pendidikan, sekaligus juga dapat membuka bahan diskusi yang seru dengan buah hati tercinta.

Tanpa bermaksud menggurui, buku ini diharapkan  mampu menjadi bagian kecil yang mewarnai hasanah litelatur pendidikan dasar di Tanah Air. Semoga banyak hal baik yang dapat menjadi inspirasi, diterapkan dan dikembangkan jauh lebih baik untuk kemajuan Tanah Air Tercinta. Toh, tidak ada salahnya kita belajar dari kearifan negara lain dengan tetap berpegang teguh pada akar budaya bangsa.

Jadi tunggu apa lagi? Segera pesan bukunya sekarang juga. Mumpung selama pre-order (15 Juli 2018) ada harga promo yaitu cuma Rp. 89.000,- (dari harga normal Rp. 110.000,-). Untuk pemesanan kamu bisa kontak Nova (08558200600) dan Diah (087785452923). Buku ini siap edar diseluruh Toko buku di Indonesia pada Agustus 2018. Yuk pesan sekarang juga dan dapatkan cerita inspirasinya!

” Buku yang sangat informatif! Ditulis dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui. ”
– Oki Setiana Dewi –