Hai, Takaiters!

Berdasarkan hasil penelitian yang terbit di Junal Science yang dihimpun laman The New York Times, beberapa waktu lalu, menemukan dampak baru akibat pemanasan global. Perubahan iklim diprediksi akan mendorong peningkatan intensitas seragan hama serangga.

Tim peneliti dari University of Washington tersebut mengungkapkan adanya kecenderungan bagi hama serangga untuk menjadi lebih cepat lapar. Hal ini disebabkan oleh tingginya temperatur suhu dari perubahan iklim yang terjadi.

Ada hitungan yang menyebutkan bahwa serangan hama serangga rata-rata merampas 10-20 persen hasil panen dari lahan pertanian di seluruh dunia sejauh ini. Persentase itu akan melompat naik seiring dengan suhu dunia yang kian memanas.

Mempercepat Metabolisme Serangga

Hama Serangga Semakin Lapar
Foto: Aaron Burden on Unsplash

Semakin tinggi temperatur lingkungan mereka, sistem metabolisme serangga juga akan lebih cepat merasa lapar. Pada tingkat yang lebih cepat, serangga membakar lebih banyak kalori ketika suhu lingkungan naik. Alhasil, situasi tersebut memaksa hama serangga untuk menyantap lebih banyak makanan.

Tingginya aktivitas metabolisme ini turut membawa implikasi lain. Penelitian yang dipimpin oleh Curtis Deutsch tersebut mengatakan bahwa aktivitas metabolisme ini akan dibarengi dengan siklus hidup serangga, di mana mereka dapat bereproduksi lebih cepat.

“Serangga akan […] bereproduksi lebih cepat karena tingkat metabolisme mereka mengalami peningkatan,” terang Deutsch, dikutip melalui The Atlantic. Hal ini cenderung mendorong petani untuk menggunakan lebih banyak pestisida, yang notabene dapat merusak taraf lingkungan lebih lanjut.

Semakin Lapar, Semakin Banyak

Hama Serangga Semakin Banyak
Foto: Eric Ward on Unsplash

Pemanasan global sendiri sudah memperlihatkan tren selepas tahun 2010 lalu. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat, suhu global dalam jangka panjang cenderung meningkat 1,1 derajat Celcius.

Sementara data yang dirilis National Aeronautics and Space Administration (NASA) sedikit berbeda, yakni meningkat sekitar 0,90 derajat celcius. Namun, dari kedua data tersebut, kita sama-sama bisa menarik satu garis besar: planet yang kita tinggali ini semakin panas.

Terdapat potensi besar terjadinya penambahan tingkat invasi hama serangga ke setiap penjuru lahan pertanian di dunia. Curtis Deutsch dkk berasumsi, porsi rampasan serangga akan meningkat 10 hingga 25 persen untuk setiap satu derajat Celcius tambahan suhu panas pada skala global.

Potensi Kerugian Signifikan

Hama Serangga Menyerang Lahan Pertanian
Foto: Vinay Gupta

Pada akhir tahun 2017 saja, PBB melaporkan bahwa konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer bumi sudah menyalip rekor angka pada tahun 2015 dan 2016. Tingginya konsentrasi CO2 ini turut ikut andil sebagai salah satu “bahan bakar” dalam memanaskan bumi.

Apabila tren tersebut terus konsisten, hampir dapat dipastikan 2 derajat Celcius ekstra akan menyelimuti bumi akhir abad ini. Pemanasan global akan menyumbang pasukan hama serangga lebih banyak. “Kami berbicara tentang kerugian (yang akan muncul) signifikan,” kata Deutsch.

Merujuk pada hitungan tambahan suhu ekstra itu terjadi, May Berenbaum, seorang peneliti tentang serangga (Entomolog) dari University of Illinois di Urbana-Champaign bahwa konsentrasi CO2 dan suhu dapat secara langsung mempengaruhi kualitas nutrisi tanaman tertentu.

“Tiga dekade penelitian telah menunjukkan peningkatan suhu lingkungan mengurangi imunitas tanaman untuk melindungi diri mereka dari serangan,” katanya. Ini tentu akan membuat serangga lebih leluasa untuk melahap tanaman.

Dua dari Delapan karena Empat

Semut Termasuk Hama Serangga
Foto: Vlad Tchompalov on Unsplash

Secara langsung, memanasnya lingkungan sudah cenderung mengganggu hasil panen. Per satu tingkat suhu pemananasan—tanpa adanya serangan hama serangga sekalipun—dapat mengurung sekitar 5 persen dari seluruh pasokan yang seharusnya didapatkan.

Kerugian itu akan bertambah 2 hingga 4 persen, yang rata-rata dipicu oleh terpaan hama serangga. Misalnya, apabila bumi memanas sebanyak 4 derajat Celcius saat ini, “bukan hanya satu, serangga akan memakan dua dari delapan roti yang kita hasilkan.” tambah Deutsch, mengibaratkan.

Kebanyakan serangga mengalami pergerakan pasif di musim dingin. Namun, karena menguatnya pemanasan global saat ini seakan membuat musim dingin lebih terlihat sebagai anomali. Tibanya dan jangka musim dingin dibuat semakin pendek, bahkan bisa terjadi di waktu dan lokasi yang tak terduga.

Ketidaknormalan tersebut akan memberikan persoalan berupa peningkatan aktivitas serangga, dan dinamika cuaca yang tidak biasa. Rangkaian itu harus dihadapi. Rasa lapar dan percepatan reproduksi serangga, serta memanasnya suhu lingkungan adalah masalah yang perlu disiasati, khususnya petani tanaman pangan.

Kembali pada Pemanasan

Foto: Catharina77/pixabay

Namun, yang perlu diingat ialah: sebagian populasi serangga tidak terlalu bertambah signifikan di daerah-daerah tropis, karena habitat dari beberapa sepesiesnya memang berada pada iklim tersebut. Rasa lapar dan aktivitas reproduksi serangga mungkin berjalan lebih lambat daripada jenis serangga yang hidup dalam balutan iklim yang lebih dingin.

Tanaman yang tumbuh di lingkungan tropis, seperti padi misalnya, bisa saja tidak mendapati penetrasi hama serangga yang signifikan; seperti apa yang diibaratkan oleh Curtis Deutsch tadi.

Walaupun tingkatnya lebih rendah, kerugian akan tetap muncul dan melonjak naik seiring dengan tren memanasnya suhu lingkungan secara keseluruhan dari waktu ke waktu. Lagi-lagi, pemanasan global merupakan dalang utama di balik semuanya.