Halo, Takaiters!

Bagi yang sudah pernah berkunjung ke Gili Lawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pasti akan selalu terkenang akan keindahan alamnya. Kawasan yang termasuk bagian dari Taman Nasional Komodo ini merupakan destinasi wisata unggulan Indonesia bagian timur.

Gili Lawa terbagi menjadi dua bagian, darat dan laut. Gili Lawa Darat menawarkan jalur pendakian di perbukitan padang sabana dan spot foto instagrammable. Pada musim hujan padang sabana akan berwarna hijau, sedangkan pada musim kemarau akan berwarna kuning kecokelatan.

Sambil menunggu momen sunrise atau sunset, pengunjung dapat mendaki ke puncak bukit untuk menikmati pemandangan padang rumput yang luas, deretan perbukitan nan indah dan laut yang membiru.

Tidak hanya dapat menikmati keindahan Gili Lawa Darat, wisatawan juga bisa menikmati keindahan bawah laut di Gili Lawa Laut. Gili Lawa laut, adalah tempat menyelam terbaik di Taman Nasional Komodo. Tepatnya berada di GPS Point yang terletak di 10 kilometer timur laut Pulau Gili Banta. Tempat ini merupakan habitat terbesar bagi ikan tuna dogtooth, kuda laut dan surgeonfish.

Pilihan Editor



Namun sayangnya, untuk menikmati keindahan alam nan cantik tersebut harus ditunda untuk beberapa waktu ke depan, Takaiters. Sebanyak 10 hektar lahan di Gili Lawa Darat habis dilalap si jago merah (Rabu, 1/8). Kejadian ini disinyalir sebagai akibat dari kecerobohan personil prewed yang membuang puntung rokok sembarangan. Sebanyak 30 petugas dari Resort Padar, Loh Sebita dan juga Labuan Bajo bekerja keras untuk memadamkan api. Aksi pemadaman berhasil dilakukan namun kondisi Gili Lawa Darat sudah terlanjur menghitam (Kamis, 2/8).

Menurut kepala Badan Taman Nasional Komodo, Budhy Kurniawan, kawasan daratan ditutup sementara untuk penyelidikan lebih lanjut sampai batas waktu yang belum ditentukan. Namun, bagi wisatawan yang ingin melakukan aktivitas di Gili Lawa Laut masih diperbolehkan. Budhy juga mengimbau kepada para pengunjung untuk mengikuti semua peraturan termasuk tidak merokok dan menyalakan api di kawasan Taman Nasional Komodo.

Melihat fakta bahwa keindahan alam yang begitu mengagumkan hilang dalam sekejap karena kecerobohan manusia, sungguh membuat kita miris, ya, Takaiters. Butuh waktu tahunan untuk mengembalikan habitat seperti sediakala. Berwisata alam juga membutuhkan etika dan sikap bijaksana kita dalam merawat dan melestarikan alam sekitar.

Yuk! Jadi pelancong cerdas, Takaiters!