Hai, Takaiters!

Kalau berkunjung atau melintasi Kabupaten Pati, tak ada salahnya untuk singgah sejenak dan berwisata kuliner khas wilayah Pati, yaitu nasi gandul. Kota Pati terletak di wilayah pesisir pantura berada di lereng pegunungan muria berbatasan dengan kabupaten Kudus, Jepara dan Rembang.

Kaya akan hasil bumi dari pertanian dan perikanan itulah kenapa Pati disebut kota Bumi Mina Tani. Ya, kuliner andalan khas daerah “Bumi Mina Tani” ini terbukti menggoyang lidah para penikmatnya.

Masakan yang cukup melegenda dan hampir disetiap sudut kota bisa kita temukan. Disajikan di piring beralaskan daun pisang, nasi gandul berisikan nasi, daging kerbau, yang diguyur kuah santan kaya rempah dan taburan bawang goreng.

Nasi gandul merupakanan makanan berkuah yang warnanya merah kecoklatan, saat disajikan pembeli akan diminta untuk memilih daging jenis apa yang digunakan untuk pelengkap. Mulai dari jeroan sapi, daging hingga lidah sapi menjadi menu pelengkapnya.

Nasi gandulpun berbeda dengan nasi pindang yang dapat dinikmati dikabupaten Kudus, Jawa Tengah. Nasi gandul menggunakan sapi sebagai menghormati leluhur karena tidak boleh menyembelih kerbau, sementara nasi pindang memakai kerbau karena menghormati tidak boleh menyembelih sapi.

Pilihan Editor



Kata gandul, merupakan bahasa jawa yang jika diartikan bermakna menggantung. Istilah itulah yang menjadi ciri khas para penjual nasi gandul waktu itu masih menggunakan pikulan untuk berjualan meski sudah menggunakan warung tetap.

Nama gandul pun diambil dari para penjual nasi yang dulunya berjualan dengan cara memikul. Nasi yang dibawa bergelantungan atau gondal gandul dalam bahasa jawa.

Namun seiring perkembangan zaman, penjual nasi gandul dengan cara dipikul mulai jarang ditemukan. Kini penjual umumnya menetap disebuah kedai.

Selain cita rasanya yang unik, nasi gandul juga memiliki sederet keunikan lainnya. Lauk tempe yang disajikan sebagai pendamping nasi gandul memiliki ciri yang berbeda dengan penyajian tempe pada umumnya.

Saat digigit, tempe dan nasi gandul ini bertekstur keras jika dibanding dengan tempe pada umumnya. Namun, saat dikunyah menjadi pecah dan mudah untuk dicerna.

Disamping itu penyajian nasi gandul selalu menggunakan selembar daun pisang. Fungsinya menetralisir panas dari masakan agar lebih nikmat saat disajikan. Kuah yang diambil dari kuali pasti panas, nah fungsinya agar nasi tidak terlalu panas dan tidak cepat dingin.

Nah, kalau Takaiters tengah berliburan di kawasan Pantura, wilayah Pati atau melintas, jangan lewatkan untuk menikmati nasi gandul.