Hai, Takaiters!

Profesi dokter sangat mulia, pengabdiannya kepada masyarakat tanpa pamrih patut diacungkan jempol. Jasanya yang besar kadang tidak terlihat apalagi jika sedang bertugas di pedalaman.

Berbeda dengan Dokter Amalia Usmaianti, dia mulai dikenal oleh publik sejak membagikan pengalamannya menjadi dokter di pedalaman Papua lewat facebook.

Dokter yang bertugas di pedalaman Boven Digoel, Papua ini adalah lulusan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dia harus berjuang mengatasi rintangan dalam menjalankan tugasnya.

Dokter muda lahir di Medan, 15 Mei 1990, yang baru berusia 28 tahun ini mengalami kesulitan juga dalam hal transportasi. Kondisi keterbatasan masyarakat dan lingkungan di pedalaman Papua menjadi hambatan masyarakat mendapatkan penanganan medis.

Dokter Amalia harus perpacu dengan jarak yang jauh dan kondisi alam yang tidak bersahabat. Jalan dari kabupaten ke distrik Ninati, tidak semua beraspal. Sebagian jalannya tanah liat yang kalau hujan menjadi lumpur, tidak bisa dilewati kendaraan. Jarak belasan kilometer harus ditempuhnya dengan berjalan kaki. Sehingga mobilitas menjadi sangat terbatas dan terganggu.

Dokter Amalia beerkejaran dengan waktu. Ia berusaha untuk bisa sampai ke tujuan sebelum malam menjelang karena binatang melata akan muncul pada malam hari dan akan menjadi kendala dalam perjalanan.

Alat komunikasi yang belum ada menjadi hambatan dalam menjalin hubungan. Masyarakat di pedalaman tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan dunia luar karena terbatasnya piranti dan jaringan komunikasi yang memadai.

Mareka harus naik pohon untuk mencari sinyal, apalagi kalau hujan petir, sinyal akan hilang. Jadi untuk jaringan, tergantung cuaca. Padahal alat ini sangat perlu penangan medis yang cepat.

Selain akses jalan dan alat komunikasi, kendala lain yang menjadi hambatan adalah keterbatasan air dan listrik di Distrik Ninati. Untuk keperluan mandi, dan mencuci harus menunggu datangnya hujan. Untuk minum dan masak diambil dari mata air dekat rumah warga.

Untuk ketersediaan listrik di Ninati yang diperoleh dari tenaga solar. Namun, untuk mendapatkan solar tidak tentu waktunya. Kadang solar susah dicari kadang sebulan sekali baru ada. Tapi kalau ada dana dari kampung untuk membeli solar, listrik bisa menyala terus.

Pilihan Editor


Amalia bertugas di daerah itu selama 2 tahun untuk mengikuti program Nusantara Sehat dari Kementerian Kesehatan sejak Mei 2017. Dia bersama dengan tim yang terdiri dari, dirinya sebagai dokter umum, dan 6 rekannya yang merupakan perawat, bidan, ahli kesehatan lingkungan, ahli gizi, analis kesehatan, dan apoteker.

Tim Nusantara sehat sangat membantu masyarakat, sebelumnya hanya ada puskesmas pembantu yang dikunjungi sebulan sekali dari puskesmas distrik lain yang terdekat. Sehingga layanan kesehatan sangat terbatas di tempat mereka tinggal.

Banyak warga di Distrik Ninati lebih memilih berobat ke Papua Nugini.
Hal ini disebabkan jarak tempat tinggal masyarakat ke puskesmas dengan ke Papua Nugini lebih dekat ke Papua Nugini, lewat hutan-hutan.

Dalam menjalankan tugasnya untuk melakukan Puskesmas Keliling (pusling), dia harus menempuh dengan berjalan kaki 16 kilometer dari puskesmas menuju kampung Tembutka.

Puskesmas tempat Amalia bertugas hanya memiliki 3 staf, yakni kepala puskesmas, bidan, dan perawat. Namun mereka jarang di tempat.

Yang lebih memprihatikan adalah ketika ada yang sakit harus dibopong keluarganya sendiri. Hal itu mereka lakukan hanya untuk mendapatkan mendapatkan akses kesehatan.

Harapan Dokter Amalia dengan mengunggah pengalamannya di facebook agar dunia luar mengetahui keadaan sebenarnya di tempatnya bertugas. Sehingga pemerintah bisa lebih memberikan perhatian khusus.

Dia berharap agar pemerintah mengaspal jalan di Distrik Ninati agar memudahkan proses merujuk pasien. Selain itu, jika akses jalan sudah bagus akan memudahkan masyarakat berinteraksi dengan dunia luar dan menjual hasil panennya ke kota.

Mereka juga menerima dana bantuan dari pemerintah setiap tiga bulan sekali. Karena saat ini, mereka mengandalkan hasil tanamannya dan mencari ikan di sungai untuk hidup sehari-hari.

Menurut Dokter Amalia, agar masyarakat maju pemikirannya, mereka butuh informasi dari luar sebagai contoh. Dia berharap juga agar memperhatikan pendidikan karena tingkat pendidikan masih rendah.

Sosmed bisa sangat berguna jika digunakan secara benar. Terbukti, Dokter Amalia membagi pengalamannya lewat facebook sehingga dunia luar tahu keadaan sebenarnya dari suatu desa tertinggal.

Bagaimana Takaiters? Setuju!