Halo, Takaiters!

Selama ini, hingar-bingar kemajuan pendidikan dan teknologi di Indonesia kerap membahana di ibukota negara maupun provinsi yang tergolong maju. Sebut saja Jawa Timur, Jawa Barat, maupun Jawa Tengah. Namun tidak banyak yang mengetahui, bahwa di ujung timur negeri kita– tersimpan kekayaan pendidikan yang termuat indah dalam balutan keanggunan provinsi Papua.

Papua memiliki kekayaan alam melimpah. Tercatat 80% hutan di Papua masih perawan alias belum terjamah. Bahkan kondisi alam Papua sangat menarik hati seorang peneliti untuk memberdayakan kekayaan fauna yang berpotensi mendunia.

Dra. Daawia Suhartawan M.Sc, peneliti Indonesia yang sangat mencintai kupu-kupu

Dra. Daawia Suhartawan M.Sc, kanan (Foto: goodnewsfromindonesia.com)

Adalah Dra. Daawia Suhartawan M.Sc, yang meyakini bahwa kupu-kupu Papua tidak hanya indah untuk ditonton, melainkan dapat dibudidayakan sebagai salah satu aset Papua yang berharga. Perempuan asal Sulawesi Tenggara ini mampu melihat kelebihan kupu-kupu Papua yang berpotensi mencelikkan mata dunia tentang kekayaan alam Indonesia.

Berawal dari pertemuannya dengan seorang kolektor kupu-kupu berkebangsaan Belanda yang mengadakan visitasi di Universitas Cenderawasih, tempat di mana ia mengabdikan diri sebagai seorang dosen. Daawia tertegun melihat sang kolektor memberikan 72.000 spesimen yang merupakan koleksi serangga Papua terbesar di dunia. Kecintaanya akan kupu-kupu kian merekah.

“Momen istimewa yang sangat memotivasi saya untuk mengembangkan konservasi Kupu-Kupu di Papua adalah saat mengunjungi Butterfly Park di Artis Zoo Amsterdam,  Belanda.” Kata Daawia.

Mereka sangat concern dan berkomitmen tinggi memelihara kupu-kupu daerah tropik pada Butterfly Park tersebut. Pada saat musim dingin mereka harus membuat suhu ruangan menjadi hangat agar kupu-kupu tersebut bisa bertahan hidup. Tentunya rekayasa ini begitu rumit karena harus menyerupai iklim negara tropis.

Butterfly Park  mengimpor kepompong dari Negara-negara tropik termasuk Indonesia

Foto: selisip.com

Pihak Butterfly Park harus mengimpor kepompong dari Negara-negara tropik termasuk Indonesia untuk dipamerkan pada Butterfly Park tersebut agar para pengunjung, masayarat umum, maupun anak-anak sekolah bisa mengenal keanekaragaman dan menikmati keindahan kupu-kupu wilayah tropik.

Di Papua ada sekitar 1000 spesies dan untuk upaya konservasi kupu-kupu tersebut tidak memerlukan biaya yang mahal.” Jelas perempuan yang sedang mengambil pendidikan Strata 3 di Nature Conservation, University Of George August Goettingen, Jerman ini panjang lebar.

Menurut Daawia, kita cukup menyediakan  lahan atau kebun lalu ditanami dengan tumbuhan pakan kupu-kupu yang terdiri dari makanan ulat dan makanan kupu-kupu saat tahap dewasa. Tempat-konservasi kupu-kupu dapat dibuat pada Kebun Kupu-Kupu (Butterfly Park) yang khusus untuk memelihara kupu-kupu. Bahkan kebun sekolah dan halaman pun bisa ditanami, dengan syarat kita menyediakan bahan pakan yang cocok bagi kupu-kupu.

Daawia menambahkan pula bahwa kupu-Kupu di Indonesia khususnya di  Papua  sangat kaya . Pembuatan kebun kupu-kupu dapat dilakasanakan dengan biaya terjangkau, mengingat iklimnya sudah cocok. Sayangnya, masyarakat Indonesia masih minim kesadaran untuk memelihara lingkungan.

Pilihan Editor



Orang-orang Eropa sudah mengoleksi kupu-kupu Papua, sejak ratusan tahun yang lalu

Foto: kintamani.id

“Orang-orang Eropa termasuk Belanda sudah mengoleksi kekayaan kupu-kupu Papua sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka sangat mengagumi keindahan Kupu-Kupu Sayap Burung (Ornithoptera).

Orang Eropa menyebut Kupu-Kupu sayap Burung sebagai Gold dan sudah dikoleksi dan disimpan di Museum Ilmu Pengetahun di Belanda (Naturalis) sejak tahun 1700-an.  Mengapa kita tidak ingin mengenal dan melestarikan kekayaan keanekaragaman hayati negara kita yang luar biasa?” jelasnya saat itu.

Pembakaran hutan yang kerap terjadi telah memudarkan, bahkan mematikan kekayaan alam yang sejatinya bisa terus dinikmati oleh anak-cucu kita di masa mendatang. Daawia menambahkan alasan spesifik mengapa Papua begitu berpotensi mendunia.

“Papua is one of the last three wilderness areas in the world after Brazil and Congo.

Papua adalah satu dari tiga area terakhir dengan kehidupan liar yang unik di dunia setelah Brazil dan Congo. Papua adalah salah satu warisan  terakhir di Bumi dengan kehidupan liar yang sangat mengagumkan dengan 90% keaekaragaman hayati endemik yang tidak ditemukan dibelahan bumi lain. Bahkan 80 % wilayahnya masih terdiri dari hutan primer.

Papua sangat kaya, di mana kekayaan alamnya menyumbang lebih dari 50 % kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Sebagai contoh, terdapat 1000 spesies kupu-kupu, 5000 spesies ngengat, 3000-4000 spesies anggrek di Papua.” tuturnya panjang- lebar.

Untuk membuat Papua semakin mendapatkan perhatian positif dari pemerintah lokal maupun internasional, Daawia bersama sejumlah rekan yang sevisi menggandeng Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup setempat untuk mengkampanyekan kelestarian alam Papua. Beliau juga bekerja sama dengan pihak Universitas Cenderawasih untuk berpartner dengan Universitas Leiden, Hortus Botanicus Leiden dan Naturalis Leiden.

“Kami sekarang sedang berjuang untuk terealisasinya Kebun KEHATI Papua tersebut yang terdiri dari Kebun Kupu-Kupu, Kebun anggrek, Kebun Zoologi dan Kebun Budaya Papua. Kebun Budaya atau Etnobotanical Garden sangat perlu dibangun di Papua sebagai upaya pelestarian kekayaan budaya dari ekitar 250 suku di Papua. ” tuturnya sumringah.

Dra. Dawiaa menularkan kecintaannya terhadap kupu-kupu kepada keluarga dengan menanam aneka tumbuhan berbunga

Foto: jamuin.com

Daawia aktif menularkan kecintaannya terhadap kupu-kupu kepada keluarga tercinta. Perempuan kelahiran 4 Maret 1968 ini menanam berbagai jenis tanaman, sayur, buah-buahan, tanaman hias, anggrek, juga berbagai jenis tumbuhan pakan ulat dan aneka tumbuhan berbunga sebagai sumber madu untuk kupu-kupu, kumbang dan lebah.

“Kami tidak menyemprot tanaman dengan pestisida kimiawi. Ada ruang untuk kehidupan liar (wild life)  di kebun kami. Saya  menyebutnya Wild life Café tempat burung, berbagai jenis serangga kupu, lebah dan kumbang dan kehidupan liar lainnya. Tamu-tamu istimewa ini dapat berkunjung dan mendapatkan makanan lezat dan sehat bebas dari pestisida kimiawi. Lambat laun, jenis tumbuhan makin beragam dan hewan-hewan liar yang mengunjungi kebun kami pun makin beragam jenisnya.”

Daawia berpesan bahwa “Keaneka ragaman hayati merupakan pemberian Tuhan yang terindah bagi umat manusia. Melestarikan alam adalah wujud penghargaan dan rasa cinta kita pada Sang Pencipta”.

Perempuan yang dapat dihubungi lewat akun FB: Daawia Suhartawan ini berharap agar generasi muda Indonesia memiliki kepedulian lebih untuk melestarikan kekayaan alam negeri. Yuk, sebarkan berita positif ini sebagai tanda persetujuanmu untuk melestarikan alam dan membuat Papua mendunia karena keindahan kebun kupu-kupunya.