Halo, Takaiters!

Berkomunikasi dengan baik berpengaruh besar pada kesuksesan pendidikan anak. Mereka selalu perlu nasihat, arahan, tuntunan, dan teladan dari orang tua. Pada setiap tahapan usia anak membutuhkan perhatian dari orang tua.

Saya ibu lima anak. Satu di usia TK, dua usia SD, dan dua lagi usia SMP. Berkomunikasi dengan mereka ternyata tidak bisa dengan cara yang sama meski untuk maksud dan tujuan yang sama. Yang paling unik adalah komunikasi dengan anak remaja laki-laki. Sebetulnya bisa disebut gampang-gampang susah. Salah satu karakter perilaku usia anak remaja adalah adanya gap atau jarak psikologis antara orang tua dan anak, meski tidak semua mengalami hal tersebut.

Anak usia remaja sudah bisa mengungkapkan isi hati dan pemikirannya dengan lebih detail disertai alasan dan argumen. Hubungan pertemanan dan lingkungan telah melesatkan kemampuan berpikir dan daya nalarnya. Itulah sebabnya cara berkomunikasi ibu dengan mereka terutama yang laki-laki kadang jadi sulit, karena ibu terbiasa mendampingi mereka sejak lahir dengan perasaan, sedangkan anak laki-laki mereka sudah mulai main logika.

Tapi ibu tidak perlu berkecil hati, segala kesulitan tentu ada jalan keluarnya. Yuk, kita coba cara berikut ini:

1. Jadikan Dia Sebagai Teman

Foto: secureteen.com

Perlakukan anak tidak sebagai bawahan yang harus menuruti semua perintah atasan. Berikan arahan awal dan tunjukkan bahwa orang tua ingin anak terlibat dalam pengambilan keputusan. Lakukan perintah sekali saja. Itupun harus berupa ajakan. Berilah pilihan dengan menunjukkan konsekuensi masing-masing. Di usianya saat ini, dia ingin punya pilihan sendiri.

2. Batasi Diri untuk Tidak Berkomunikasi Langsung Pada Hal-hal Tertentu

Foto: divorcedmoms.com

Sekali waktu ibu perlu mengerem diri. Komunikasi tentang hal tertentu kadang lebih lancar bila dilakukan dengan ayah, sebagai sesama lelaki.

3. Selalu Menciptakan Komunikasi yang Supportif

Foto: niceimgro.pw

Anak remaja paling tidak suka model komunikasi yang menyalahkan atau menjatuhkan. Beri mereka ruang untuk berpendapat dan tunjukkan empati. Alasan logis dan masuk akal akan menggiring mereka mengikuti kemauan orang tua tanpa paksaan.

4. Terbuka dan Mau Dikoreksi

Foto: keytokids.com.au

Orang tua tak perlu malu disalahkan, bila memang terbukti bersalah. Tak perlu bersikap otoriter. Sikap otoriter hanya akan membuat anak jadi melawan dan takut mengambil keputusan.

Itulah yang bisa dilakukan oleh ibu dalam berkomunikasi dengan anak remajanya, terutama yang laki-laki. Jangan lupa senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka agar hati mereka selalu terhubung dengan orang tua terutama dengan ibu.

Semoga bermanfaat.