Hai, Takaiters!

Tahukah kamu, kalau bagi masyarakat Jawa, bubur sengkolo atau bubur abang putih (merah putih), tidak pernah absen bila ada selamatan atau acara sakral?  Seperti kelahiran, pernikahan, membeli rumah, motor atau mobil baru,  makanan manis ini selalu dihidangkan. Bubur sengkolo terbuat dari beras yang dimasak menggunakan santan dan gula jawa.

Ternyata ada filosofi yang sangat mendalam dari makanan sederhana ini, loh. Sejak zaman dulu, sebelum agama masuk ke wilayah Nusantara, masyarakat sudah menganut aliran kepercayaan Kapitayan. Aliran yang mempercayai adanya kekuatan yang sangat besar, yang menguasai segala sesuatu di alam semesta.

Masyarakat Nusantara saat itu belum mengenal Tuhan. Sebutan untuk kekuatan yang menguasai seluruh alam semesta ini antara lain, Sang Hyang Moho Dewo dan Sing Gawe Urip. Namun, mereka telah mempunyai kesadaran, bahwa manusia hidup ada yang mengatur dan mengawasi.

Pilihan Editor



Bubur sengkolo merupakan ungkapan nyata sebuah doa, penyerahan diri kepada Sang Hyang Moho Dewo atau Tuhan. Permohonan agar diberi keberkahan dan keselamatan. Bubur ini juga merupakan simbol, bahwa setiap manusia berasal dari sari pati bumi, melalui darah merah ibu dan darah putih ayah. Fitrah manusia adalah kembali kepada Tuhan YME. Bubur sengkolo juga dipercaya sebagai tolak bala, mengusir segala kesialan.

Kebetulan, bubur ini juga berwarna merah (coklat) yang berasal dari gula jawa, dan putih yang berasal dari santan, mirip dengan bendera nasional negara kita. Selain itu ada juga yang menyebutkan, bahwa bubur sengkolo  merupakan simbol manusia yang terdiri dari putihnya tulang dan merahnya darah.

Hal tersebut selaras dengan agama-agama yang diakui di Indonesia ya, Takaiters. Bahwa manusia seharusnya  berserah diri kepada Tuhan. Manusia wajib berusaha, berikhtiar dalam segala hal. Berusaha semampu kita, dan menyerahkan hasil akhirnya hanya kepada Tuhan, sebagai kekuatan terbesar di atas segalanya.

Di era milenial ini, mungkin, banyak dari kita yang menganggap bubur sengkolo sudah kuno dan tidak lagi penting, ya. Namun bagi masyarakat Jawa, tradisi membagikan bubur sengkolo setiap hari lahir atau wetonan merupakan keharusan. Sangat merepotkan dan terkesan ketinggalan zaman. Namun sisi baiknya, bubur sengkolo merupakan sarana berbagi dan mempererat silaturahmi antar tetangga dan saudara. Jadi tidak rugi,kan? Kita bisa menyebarkan hal positif  indahnya berbagi.

Tidak ada salahnya melestarikan kebudayaan, nguri-uri kabudayan, karena kalau bukan kita siapa lagi. Asal,  tradisi tersebut membawa kebaikan dan memberi nilai lebih bagi kehidupan kita, serta mampu memersatukan keberagaman di negara kita.