Awal mula bertemu dengan teman-teman yang berbeda pulau, kota, adat, dan budaya adalah saat memasuki bangku perkuliahan. Saya tidak menyangka, jenjang Universitas menyatukan kami semua yang berbeda latar belakang berbaur menjadi satu.

Sejumlah teman berdarah Batak, Minang, dan Papua juga saya jumpai. Namun, saya paling sering bertukar pikiran dan makan bersama dua teman saya yang berasal dari Tanah Minang karena kami satu Fakultas meski berbeda jurusan.

Empat tahun lebih mengenal mereka berdua membuat saya sadar bahwa pelajaran hidup itu rupanya datang dari luar daerah. Setidaknya ada 4 hal paling mengesankan dalam hidup ini yang saya dapatkan usai mengenal dan menghabiskan waktu bersama mereka.

Pesan yang saya ingat waktu itu adalah “Pandailah menggunakan kesempatan selama itu datang ke kamu.” Sederhana ya? Tapi, berkat itu saya bisa sampai seperti sekarang. Pensaran 4 hal itu apa saja? Simak yuk!


Enggan merepotkan orang lain selama masih bisa berusaha sendiri

berteman dengan orang minang
Foto : wp.com

Mungkin banyak dari kita yang masih meremehkan keadaan dan memanfaatkan kebaikan orang lain padahal masih mampu dikerjakan sendiri. Sikap yang mudah menyerah dan selalu mengandalkan orang lain membuat kita sulit berkembang dalam menghadapi tantangan hidup.

Namun, tidak dengan mereka berdua. Prinsip yang selalu dipegang adalah “bertahan selama mampu, meminta bantuan bila memang perlu!” itu yang membuat saya salut. Dari situ saya belajar bahwa penting menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras supaya tidak memalukan tanah asal di kota orang.

Mau belajar menyesuaikan diri dimanapun berada

berteman dengan orang minang
Foto : pexels.com

Ketika sesama orang Minang berkumpul, mereka cenderung menggunakan bahasa asli daerah asalnya. Sementara jika bertemu dengan orang yang berbeda kota atau pulau, maka mereka memilih menggunakan bahasa indonesia. Yah meskipun logat nggak bisa bohong ya hehe.

Namun dari situ, saya belajar kalau penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitar dimulai dari bahasa dan cara menghargai perbedaan latar belakang. Mereka berpikir kalau memperkenalkan diri harus dimulai dengan mengenal lawan bicara. Apabila sudah terjalin komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar, maka orang lain pun akan kembali memahami background mereka.

Pilihan Editor



Teliti dan Pemikir

berteman dengan orang minang
Foto : pexels.com

Sesorang mengatakan bahwa teliti merupakan salah satu kunci menuju gerbang kesuksesan. Sikap ini harus dibiasakan agar menjadi kebiasaan sehingga celah untuk berbuat ceroboh kian sempit. Selain itu, mereka juga pemikir yang cepat dan tidak takut mengambil risiko.

Menurut keduanya, risiko selalu ada setiap seorang manusia mencoba bertindak. Risiko akan mengajarkan bagaimana kita menghargai pilihan yang telah diambil dan tentu pengalaman juga bertambah. Apalagi kalau sedang berada di tanah perantauan, maka supaya dapat bertahan hidup harus berani mengambil risiko jika ingin sukses dan maju.

Memiliki Solidaritas tinggi

berteman dengan orang minang
Foto : pexels.com

Berasal dari tanah kelahiran yang sama membuat mereka menguatkan satu sama lain di tanah orang. Solidaritas di sini dalam arti positif ya, artinya memang mereka menyadari bahwa hidup di luar daerah harus bisa saling menjaga.

Misalnya saja ada teman yang sakit, maka tidak lama kemudian mereka mengumumkan berita tersebut melalui grup seperti ‘kumpulan anak Minang’ guna mengumpulkan bantuan serta sebagai aksi peduli sesama. Sifat seperti inilah yang seharusnya dicontoh oleh semua orang, bahwa solidaritas positif akan melahirkan kelembutan hati tanpa harus menghilangkan jati diri.


Benar bahwa teman dan lingkungan itu memengaruhi sikap kita dalam melewati arus kehidupan. Walaupun tidak semua orang Minang seperti itu, tetapi bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang pandai mengambil pelajaran dan hikmah dari suatu peristiwa? Termasuk takdir bertemu dengan kawan yang berbeda latar belakang adat istiadat.